Jabar24
5 Des 2025, 12.43 WIB
Last Updated 2025-12-05T05:43:18Z
Ragam

Tangan-Tangan Kecil dan Antrean Panjang: Saat Rp67.000 Mengubah Air Mata Jadi Senyum di Pelosok Cianjur"

Advertisement

CIANJUR – Di sebuah pagi yang sejuk di Desa Babakankaret, bukan hanya kabut pagi yang menyelimuti perbukitan, tetapi juga sebuah harapan yang terasa nyata. Jumat (5/12/2025) itu akan dikenang warga bukan sebagai hari biasa, melainkan sebagai hari di mana kehadiran negara menyentuh langsung kehidupan mereka dengan cara yang paling membahagiakan: melalui harga yang manusiawi.

Sejak pagi hari, ratusan warga sudah berjajar tertib membentuk barisan panjang bak ular naga. Mereka bukan mengantre tiket konser atau gadget terbaru. Mereka, dengan kesabaran luar biasa, menunggu untuk membeli paket sembako lengkap dengan harga yang hanya 40% dari harga normal. Bayangkan: Rp 167.000 menjadi Rp 67.000. Selisih Rp 100.000 per paket disubsidi langsung oleh Pemerintah Kabupaten Cianjur.

"Saya tidak percaya, Pak. Ini seperti mimpi di siang bolong," lirih Ipoh (70), sambil matanya berkaca-kaca memeluk erat paket berisi 5 kg beras, minyak goreng, gula, dan terigu. "Uang saya biasanya habis untuk beras dan obat. Hari ini, kami bisa makan layak dan masih ada sisa untuk beli lauk. Ini berkah," ujarnya, suara bergetar penuh syukur.

Yang menggetarkan hati bukan hanya angka diskonnya, tetapi ketepatan sasaran dan empati di balik program ini. Lokasi yang dipilih adalah desa di pelosok, jauh dari gemerlap pasar modern. Di sinilah, bagi ibu-ibu seperti Ipoh (70), perjalanan ke kota untuk belanja murah memakan biaya transportasi yang tak sedikit.

"Biasanya, uang Rp 67.000 ini cuma cukup buat ongkos bolak-balik dan sekilo dua kilo beras. Sekarang, saya bawa pulang segunung rezeki. Ini bukan bantuan, ini keadilan," ucap Ipoh dengan mata berbinar, menyorongkan uang recehnya yang telah ditabungnya seminggu.

Sekretaris Daerah Cianjur, Ahmad Rifai, yang turun langsung ke lokasi, tampak terharu menyaksikan antusiasme warga. "Ini adalah bahasa yang kami pahami bersama: bahasa penghematan riil untuk rakyat. Setiap rupiah subsidi ini adalah investasi kami pada senyum dan ketenangan bapak-ibu sekalian," serunya di sela-siap menyerahkan paket langsung ke tangan warga lanjut usia.

Kedisiplinan antrean menjadi pemandangan lain yang membuat kagum. Tanpa keributan, warga bergiliran. Petugas dengan cermat memastikan setiap kepala keluarga mendapat jatahnya. "Kami jaga ini agar saudara-saudara kita yang paling membutuhkan di ujung barisan juga kebagian," kata Isep Solihin, Kepala Desa Babakankaret, bangga pada warganya.


Operasi Pasar Murah ini adalah lebih dari sekadar transaksi ekonomi. Ia adalah simfoni kecil yang indah: perpaduan antara kebijakan pemerintah yang berpihak, kesabaran warga yang luar biasa, dan atmosfer gotong royong yang masih hidup. Di tengah gempuran berita kenaikan harga, sebuah desa di Cianjur menjadi bukti nyata bahwa dengan niat dan eksekusi yang tulus, pemerintah bisa hadir bukan sebagai regulator jauh, melainkan sebagai sahabat yang meringankan beban.

Hari itu, di Babakankaret, yang dibawa pulang warga bukan hanya sekarung sembako. Mereka membawa pulang keyakinan bahwa di negara ini, mereka tidak dilupakan. Dan itu, tak ternilai harganya.

Aji