Breaking News

Musik, Lingkungan, dan Kesadaran: Saprol Hadirkan “Music Camp & Workshop 2026” di Pangandaran

Pangandaran - Semangat membangun kesadaran melalui seni kembali digaungkan di Kabupaten Pangandaran. Melalui kegiatan “Music Camp & Workshop 2026: Dari Puisi Menjadi Lagu”, sejumlah musisi, akademisi, dan pegiat seni akan berkumpul di SAP’S HOUSE, Desa Cibenda, Parigi, Pangandaran, pada 22–24 Mei 2026.

Kegiatan yang digagas dan diketuai oleh sosok yang akrab dipanggil Saprol itu bukan sekadar agenda pelatihan musik biasa. Di balik acara tersebut, tersimpan semangat membangun ruang kreatif dan ruang berpikir kritis bagi generasi muda Pangandaran melalui musik, sastra, dan diskusi kebudayaan.

Saprol sendiri dikenal masyarakat sebagai pegiat lingkungan yang aktif melakukan penghijauan di Pangandaran, khususnya di kampung halamannya, Desa Cibenda. Dalam beberapa tahun terakhir, ia terlibat dalam berbagai kegiatan penanaman pohon dan kampanye kepedulian ekologis yang melibatkan komunitas anak muda dan masyarakat desa.

Menurut Saprol, musik dan lingkungan memiliki hubungan yang erat karena keduanya berbicara tentang kehidupan dan kesadaran manusia.

“Musik bukan hanya hiburan. Musik adalah cara manusia membaca dirinya sendiri dan membaca keadaan sekitarnya. Karena itu kami ingin menghadirkan ruang belajar yang terbuka, gratis, dan membebaskan,” ujarnya.

Acara ini menghadirkan dua narasumber dari Program Studi Penciptaan Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yakni Dr. Royke Bobby Koapaha dan Adi Wijaya.

Dr. Royke Bobby Koapaha dikenal sebagai dosen Program Studi Penciptaan Musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta dengan bidang pengajaran meliputi analisis komposisi lanjut, musik multimedia, hingga musik dunia. Ia juga aktif dalam berbagai penelitian dan pengembangan multimedia artistik di lingkungan ISI Yogyakarta.

Sementara itu, Adi Wijaya dikenal sebagai pianis, komposer, sekaligus dosen ISI Yogyakarta yang aktif mengeksplorasi pendekatan musik progresif dan avant-garde. Ia juga beberapa kali menjadi pembicara dalam forum musik kontemporer dan pengembangan arsitektur musik pop modern.

Kegiatan workshop ini akan membahas proses kreatif mengubah puisi menjadi lagu, teknik komposisi musik, hingga pendekatan artistik dalam penciptaan karya musik modern. Selain sesi materi, peserta juga akan mengikuti sesi praktik kreatif dan diskusi terbuka bersama para narasumber.

Program Studi Penciptaan Musik ISI Yogyakarta sendiri dikenal sebagai salah satu program studi yang fokus pada pengembangan komposisi musik baru, eksplorasi ide kreatif, serta pembentukan kepekaan sosial dan budaya melalui musik. 

Menariknya, kegiatan ini dibuka secara gratis untuk masyarakat umum. Hal tersebut disebut sebagai bentuk komitmen panitia agar ruang belajar seni tidak hanya dapat diakses kalangan tertentu, tetapi juga masyarakat akar rumput, pelajar, komunitas, hingga anak-anak muda desa.

Di tengah situasi ketika ruang-ruang kreatif mulai tergerus budaya instan media sosial, “Music Camp & Workshop 2026” justru hadir sebagai ruang alternatif yang mencoba menghidupkan kembali tradisi berpikir, membaca, menulis, dan mencipta melalui musik.

Bagi Saprol, membangun lingkungan tidak cukup hanya dengan menanam pohon, tetapi juga harus menanam kesadaran.

“Kalau pohon menjaga alam, maka seni menjaga jiwa manusia,” katanya.

No comments